- Jawara A Mild Wanted 2010 Reg V Berkunjung ke Pemkot Palembang
- Virus Band Juara UGC 2010 Palembang
- Mencoba Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri
- Music, Film, and Electricity
- Porn Star and Rock Star
- Musicians and Fashion
- Film Indie dan Undang-undang Perfilman 2009
- Fenomena Band Jenaka
- Kemajuan Musik Indonesia
- Backlink Award
- Blogger Indonesia Award
- Menaklukan Jakarta
- Apresiasi Budaya Lokal dengan Film Independent
- Menaklukan Jakarta II
- How to Be A Film Maker
- Being Dump is All You Need
- Real Tube Amplification VS Digital Modeling Amp
Written by Ery Todes Thursday, 10 September 2009 14:43

Dalam penjelajahan dunia maya tanpa sengaja kita menemukan bahasan menarik tentang perkembangan musik di dalam negeri tercinta ini yang dihubungkan dengan isu yang sedang hangat dibicarakan saat ini. "Musik Indonesia Kalah Maju Sama Musik Malaysia" itu tajuk yang cukup menarik untuk disimak, dan ini dibahas dalam forum indie Indonesia yang mungkin terbesar saat ini (http://www.lalightsindiefest.com/forum).
Malaysia yang sekarang ini sedang digembor-gemborkan telah mencuri banyak hal dari Indonesia termasuk batas wilayah teritorial, dan beberapa kekayaan intelektual Indonesia menurut beberapa sumber memiliki selera musik lebih berkelas ketimbang masyarakat Indonesia. Bukan hanya selera musik yang lebih berkelas, musisi-musisi Malaysia juga lebih bersinar di kancah Internasional ketimbang musisi-musisi tanah air. Benarkah hal ini ?
Dalam forum tersebut moderatornya menjelaskan betapa terkejutnya ketika mendengar Band "tandem" konser Pure Saturday di salah satu cafe di Jakarta adalah "Hujan" sebuah band asal Negeri Jiran Malaysia. Dari namanya sekilas terdengar seperti band populer asal Indonesia yang saat ini sering menghiasi televisi-televisi Indonesia dengan tembang-tembang sedihnya, jadi muncullah anggapan kalau "Hujan" adalah band yang mengusung musik Melayu yang mendayu-dayu. Dan hebatnya ketika konser digelar ternyata "Hujan" tidak seperti yang diperkirakan. Mereka tampil dengan musikalitas tinggi membawakan lagu-lagu yang cenderung rock upbeat, empat jempol buat mereka deh.
Memang tidak semua band Malaysia seperti "Hujan" walaupun band tersebut sedang disukai di Malaysia. Tapi dari hal ini kita menemukan betapa kita "bagai katak dalam tempurung" menganggap band-band dalam negeri lebih berkelas ketimbang band-band Malaysia.
Sebelumnya sempat menyeruak kabar bahwa Malaysia membatasi penyiaran lagu-lagu dari musisi-musisi Indonesia dengan alasan kebanyakan masyarakat Malaysia lebih menyukai musik dari Indonesia dan takut musisi-musisi mereka kalah saingan. Apakah benar begitu atau pembatasan tersebut karena musik Indonesia tidak layak didengar dan dianggap tidak berkelas. Itupun sulit menjawabnya.
Dalam forum tersebut ada warga negara Indonesia yang sudah cukup lama menetap di Kuala Lumpur - Malaysia sedikit memberi informasi tentang beberapa band Malaysia yang cukup bersinar di blantika permusikan Internasional.
Kalo Nidji yang "Haeven" nya jadi theme song serie Heroes, tapi cuma di
Asia tenggara. Band asal Malay "Pop shuvit" lagu skater anthem mereka dibeli
ESPN buat acara summer X-games yang diputar diseluruh dunia. Malah DJ
terkenal Nick Warren telah nge-remix lagu Conversations mereka menjadi hit
di UK. Begitu juga penyanyi Ning Baizura, lagunya mengisi ost serie Grey's
Anatomy.
Kalo Indo punya Anggun,Malay punya dato Shake. Keduanya
sama-sama menetap di Prancis. Bedanya penjualan album Anggun 3 juta copy
worldwide, album Shake 10 juta copy worldwide, dan dianugrahi medali
Chevalier des Art and Lettre oleh Perancis. Begitu juga penyanyi Malay Aishah, pernah hit dengan band Aishah and the Fan Club.
Ada yang berkomentar "Tahun ini adalah tahun Melayu". Komentar tersebut benar juga mengingat betapa seragamnya musik yang sering ditayangkan di televisi sekarang ini, bahkan dangdut yang dibilang musik asli Indonesia seperti mati suri, karena tokoh-tokoh yang terkait malas berkreasi karena lebih banyak bajakan yang laku ketimbang album originalnya, semua akibat keterpurukan ekonomi bangsa ini. Kemiskinan membuat produser lebih memilih cara murahan untuk menghasilkan rupiah yang banyak sehingga mau tak mau negara ini disuguhkan musik yang itu-itu saja.
Tulisan ini bukan untuk mengkotak-kotakan genre musik, bukan untuk menilai baik atau buruknya musikalitas suatu bangsa, terlebih lagi bukan untuk mengadu domba antara Indonesia dan Malaysia. Tulisan ini dimaksudkan agar musisi-musisi tanah air tergerak dan semakin bersemangat dalam berkreasi. Ingat kata bijak "Padi semakin berisi semakin merunduk" dan jangan menjadi "katak dalam tempurung". Semakin banyak referensi yang anda punya akan semakin tau kekurangan kita, dan semoga hal itu dapat membuat kita lebih baik di masa datang.
| Comments |
|
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
Calender Event
-
Wapro RRI Pro 2 Palembang Present WAPRO (Warung Pro 2) Pentas...
-
Sound Of Sumatera PULAUPASIR FOUNDATION (LAMPUNG) - VOLTUNE (PALEMBANG)...
-
RELEASE THE INTUITION RELEASE THE INTUITION DON BOSCO & GUNDAR CAMPUS...
- 1
Indie Band
-
Stripe Plus Stripe Plus band memulai karir sebagai Musisi 100%...
-
The Sherief The-Sherief, band ini terbentuk pada tanggal ...
-
Heroes Heroes sebuah band asal Palembang Sumatera Selatan...
-
Five Star Band FIVE STAR BAND terbentuk pada 02 Januari 2008, Di...
-
ReFREN ReFREN terbentuk pada tanggal 13 Mei 2003. ReFREN...
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
Please donate us for the life of this website







